Terbukti Paling Bisa Cari Uang Dari Bisnis OnLine

Kamis, 20 Agustus 2009

Hukum Electronic Commerce (E-Commerce)

dakwatuna.com – Sosiolog Islam, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya (I/54) menyatakan bahwa manusia berkarakter dasar sebagai makhluk sosial dan berperadaban yang membutuhkan pergaulan sosial yang tentunya membawa konsekuensi adanya transaksi muamalah serta pertukaran barang dan jasa. Hal ini memerlukan prinsip-prinsip juridis samawi yang mengatur semuanya itu agar sesuai dengan sunnatullah, keharmonisan dan keadilan sosial. Prinsip-prinsip syariah dalam masalah pertukaran dan kontrak muamalah yang dapat digunakan untuk melakukan tinjauan hukum atas setiap transaksi sepanjang zaman termasuk era modern untuk kemaslahatan semua pihak sebagaimana dirumuskan para ulama (Imam Asy-Syathibi dalam al-Muwafaqat, II/7, 259, Imam al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, II/59, Ibnu ‘Asyur dalam Maqashid Asy-Syariah, hal. 176 dan Dr. Yusuf al-Qardhawi, dalam al-Halal wal Haram fil Islam, hal. 137) sebagai berikut:

Pertama: Asas kerelaan dari semua pihak yang terkait (‘An Taradhin). (QS. An-Nisa’: 29) demikian pula sesuai hadits Nabi saw.: “Sesungguhnya transaksi jual beli itu harus atas dasar kerelaan” (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Kedua : Larangan praktik penipuan, kecurangan dan pemalsuan. Hal ini termasuk memakan harta orang lain secara batil maka transaksinya batal demi hukum. (QS. Al-Muthaffifin:1-5, Al-Anfal: 27, An-Nisa’:29) Oleh karena itu Nabi saw sangat mengecam praktik berbagai kecurangan tersebut dalam segala bentuk dan media bisnisnya dengan sabdanya: “Barang siapa yang melakukan penipuan ia bukan termasuk golongan kami” (HR. Muslim) Termasuk dalam hal ini adalah sumpah, janji, iklan, penawaran dan promosi dengan barang/jasa ataupun harga palsu. Sabda Nabi saw.:“Wahai para pebisnis jauhilah kebohongan.”(HR. Ath-Thabrani) Salah seorang dari tiga golongan yang tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat adalah orang yang menjual komoditinya dengan cara berbohong (HR. Muslim).

Ketiga : Tradisi, prosedur, sistem, konvensi, norma, kelaziman dan kebiasaan bisnis yang berlaku (‘urf) yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah seperti praktik riba dan spekulasi merupakan asas pengikat dan komitmen transaksi bisnis dan perdagangan,

Keempat : Berdasarkan niat dan itikad yang baik serta menghindarkan kelicikan dan akal-akalan (moral hazard) dengan mencari celah hukum dan ketentuan yang seharusnya. Nabi saw bersabda.: “Janganlah kalian melakukan pelanggaran seperti kelakuan kaum Yahudi, yaitu kalian membolehkan larangan dengan muslihat apapun.”

Kelima: Deal (kesepakatan) transaksi dilangsungkan dengan serius, konsekuen, komit dan konsisten, tidak boleh main-main dan mencla-mencle, sebab menurut Nabi saw umat Islam itu terikat dengan perjanjian dan kesepakatan yang mereka lakukan (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Keenam : Transaksi harus berdasarkan prinsip keadilan dan toleransi. (QS. An-Nahl:90, Al-Baqarah: 280) Nabi saw. bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang berlaku toleran jika menjual, membeli, menuntut dan menunaikan kewajiban.” (HR. Bukhari)

Ketujuh : Tidak dibolehkan melakukan transaksi dengan cara, media dan objek transaksi yang diharamkan Islam baik barang maupun jasa seperti; riba (bunga), menimbun, ketidakpastian objek transaksi (gharar), makan dan minuman haram.


Oleh karena itu hukum transaksi dengan menggunakan media E-commerce adalah boleh berdasarkan prinsip mashlahah karena kebutuhan manusia akan kemajuan teknologi ini dengan berusaha memperbaiki dan menghindari kelemahan dan penyimpangan teknis maupun syariah sebab tidak dapat dipungkiri bahwa mekanisme yang dibuat manusia tidak luput dari kelemahan dan selama masih relatif aman dan didukung oleh upaya-upaya pengaman hal itu dapat ditolerir. (berdasarkan prinsip toleransi syariah dalam muamalah dan kaidah fiqih: Adh-Dhararu Yuzal/Mudarat harus dihilangkan)

Mengenai teknis operasionalnya dikembalikan kepada kelaziman, tradisi, prosedur dan sistem (‘urf) yang konvensinya berlaku termasuk dalam implementasi ijab dan qabul dalam jual-beli, serta tidak harus dilakukan dengan mengucapkan kata atau bertemu fisik, tetapi bersifat fleksibel dengan meng-klik atau meng-enter pilihan tertentu pada cyberspace yang kemudian dilakukan penyelesaian pembayaran dengan cara dan media teknologi apapun dapat dianggap sah selama memenuhi kriteria dan persyaratan syariah dalam transaksi untuk selanjutnya masing-masing pihak komitmen untuk memenuhi kewajibannya masing-masing sesuai kesepakatan (QS.An-Maidah:1). Nabi bersabda: “Orang Islam itu wajib memenuhi komitmen kesepakatan mereka kecuali kesepakatan atau perjanjian yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi) Wallahu Alam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah. [] Nambah Bacanya...